Jumat, 12 Februari 2016

Raksasa di Ujung Senja

raksasa-di-ujung-senja


Update terbaru artikel-artikel menarik, renyah, dan inspiring tentang manajemen keuangan, akuntansi, karir bidang keuangan, dan personal finance pindah ke  www.manajemenkeuangan.net



Lazimnya sebuah proses perjalanan hidup, diawali dengan kelahiran, kemudian bertumbuh,  dewasa, menua dan akhirnya mati.
Demikian juga dengan perjalanan sebuah bisnis, dia lahir-tumbuh-dewasa-mati, berikut ini beberapa contohnya:

Anda tentu mengenal “Mentos”, sebuah merk permen yang mendunia. Sejarah Mentos diawali tahun 1900 saat Izaak Van Melle mengubah toko roti ayahnya di Breskens-Belanda menjadi pabrik permen Mentos.

Van Melle diakuisisi  dan merger dengan Perfetti – Italia tahun 1932. Saat ini Mentos tersedia di lebih dari 150 negara dengan omset Rp 37 T.

Berikutnya, Teva Pharmaceutical Industries Ltd, dimulai dari grosir obat impor pada tahun 1901 di Al Quds ( Jerusalem ) oleh C. Salomon , M.Levin & Y. Elstein. Pada tahun 1930 mereka membangun pabrik obat pertama di Al Quds.

Kini Teva Pharmaceutical Industries Ltd menjadi perusahaan obat generik nomor satu dunia dengan omset Rp 270T, dan hadir di hampir semua negara di dunia.  

Lakshmi Mittal, tahun 1976 merintis bisnis baja dari Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur. Melalui penguasaan pada setiap detail bisnis, Lakshmi Mittal berkembang menjadi raja baja nomor satu dunia dengan bendera ArchellorMittal.

Narasi perjalanan sukses berikutnya adalah kisah sang raksasa Google. Google didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin saat masih mahasiswa Ph.D. di Universitas Stanford. Mereka berdua memegang 16 persen saham perusahaan. Mereka menjadikan Google sebagai perusahaan swasta pada tanggal 4 September 1998. Pernyataan misinya adalah "mengumpulkan informasi dunia dan membuatnya dapat diakses dan bermanfaat oleh semua orang", dan slogan tidak resminya adalah "Don't be evil". Pada tahun 2006, kantor pusat Google pindah ke Mountain View, California. ( sumber : wikipedia ) 

Dan berikut cerita sukses dari negeri sendiri, Mitra 10. Mitra 10 adalah salah brand yang dibangun dari bisnis distribusi. Di mulai tahun 1966, berdiri toko cat sederhana dengan label nama “ Sentosa”.  Toko ini adalah cikal bakal dari Mitra 10.

Pada tahun 1983 berkembang menjadi perusahaan distribusi material bangunan. Kemudian disusul distributor bahan kimia. Tahun 1997 berdiri Mitra 10 sebagai toko ritel bahan bangunan modern.

Tahun 2014 Mitra 10 beromset Rp. 7,143 T, laba kotor Rp. 931 M, Laba bersih Rp. 115 M, Aset Rp. 3,308 T, dan ekuitas Rp. Rp. 818 M.


***



raksasa-di-ujung-senja



Narasi akhir perjalanan atau yang sedang menuju akhir dari sebuah bisnis juga bertebaran di berbagai belahan bumi, berikut contohnya :

Mandala Airlines berdiri tahun 1969 sebagai unit penerbangan militer. Pada tahun 2006 Cardig International mengakuisisi Mandala. Tahun 2011 sempat berhenti sejenak karena masalah keuangan. Dan tahun 2014 pailit!.

Berikutnya adalah cerita sang raksasa elektronik dunia dari negeri Samurai ; Sony, Panasonic, dan Toshiba.

Sony didirikan pada 7 Mei 1946 dengan nama Perusahaan Telekomunikasi Tokyo dengan sekitar 20 karyawan. pada 1958 perusahaan mulai secara formal mengadopsi nama "Sony Corporation" sebagai nama perusahaan (wikipedia).

Panasonic Corporation adalah sebuah produsen elektronik Jepang yang berbasis di Kadoma, Prefektur Osaka, Jepang. Perusahaan ini didirikan oleh Konosuke Matsushita pada 1918, dengan produk pertamanya adalah soket lampu dupleks. Pada 1927, perusahaan ini memproduksi lampu sepeda, produk pertama mereka yang dipasarkan dengan merek National. Sejak itu, Matsushita telah menjadi produsen elektronik terbesar di Jepang dan berkompetisi dengan Sony, Thomson, dan Philips. Sebagai produsen semikonduktor, Matsushita merupakan salah satu dari 20 pemimpin penjualan semikonduktor terbesar dunia (sumber : wikipedia).

Toshiba dibentuk pada tahun 1939, merupakan hasil merger dari dua perusahaan. Tokyo Denki adalah perusahaan yang bergerak di bidang consumer goods dan perusahaan mesin Shibaura Seisakusho.

Bagaikan raksasa di ujung senja, industri elektronika Jepang yang begitu digdaya di tahun 80-an dan 90-an, pelan-pelan memasuki lorong kegelapan. Kerugian terus mendera. Awal 2016 mereka menutup pabriknya di Indonesia serta mem-PHK ribuan karyawannya.

Produk-produk dari Korea dan China terus menggerus pasar produk Jepang, sebaliknya raksasa-raksasa elektronik dari negeri Samurai seakan-akan gagap menghadapinya. Akibatnya bisa ditebak, pelan-pelan mereka mengalami kemunduran dan kerugian.  

Dari narasi sukses, narasi perjalanan di ujung senda, dan narasi akhir dari beberapa perusahaan di atas, pelajarannya adalah persaingan akan terus ada di muka bumi ini. Hanya mereka yang kuat yang bisa bertahan.

Kelahiran dan kematian adalah hal lumrah di dunia ini. Satu kematian, akan digantikan oleh lainnya. Sebidang ruang kosong akan ditempati oleh yang lain.

Satu perusahaan mati, akan digantikan oleh perusahaan lain. Terus silih berganti, sampai akhir kehidupan. Yang bisa diupayakan adalah ‘memperlama’ waktu kejayaan itu.

Dan samurai-samurai dari negeri Jepang itu, bisa jadi tidak mampu memperpanjang masa kejayaannya atau memang sudah ‘waktunya’ kembali ke pemilik segalanya.

Lalu bagaimana dengan Ina Snack? kita tunggu saja perjalanannya :)


***



Sabtu, 30 Januari 2016

3 Cara Menikmati Omset Excelent tanpa Menemukan dan Memiliki

3 Cara Menikmati Omset Excelent tanpa Menemukan dan Memiliki
cherry-blossom

Update terbaru artikel-artikel menarik, renyah, dan inspiring tentang manajemen keuangan, akuntansi, karir bidang keuangan, dan personal finance pindah ke  www.manajemenkeuangan.net

Mendoan adalah khas Banyumas, tapi yang menikmati omset besar dari penjualan mendoan adalah pengusaha  Jakarta.

Kalapan dan Ikan Kalapan adalah khas Tuban, tapi yang menikmati omset besar dari penjualan produk itu adalah pengusaha dari Surabaya dan Jakarta.

Garam adalah khas produk dari pulau Madura, tapi penguasa pasar garam adalah pengusaha dari Surabaya dan Jakarta.

Itu contoh-contoh skala nasional, bagaimana dengan skala global, berikut contohnya:

Pizza adalah khas Italia, tapi yang menikmati omset maknyus dari produk tersebut adalah  perusahaan dari Amerika Serikat.

Gunung emas Grasberg milik Indonesia, tapi yang menikmati omset ratusan triliun rupiah adalah perusahaan dari Amerika Serikat.

Burger adalah khas Jerman, tapi penguasa pasar burger dunia adalah McDonalds, Amerika Serikat.

Bagaimana dengan wayang, gamelan, batik, dan reog Ponorogo? Akankah bernasib seperti contoh-contoh di atas. Kita ikuti saja perkembangan ke depan....

Pertanyaan berikutnya adalah kenapa pengusaha dan perusahaan-perusahaan di atas bisa meraup keuntungan yang spektakuler dari bisnis itu?

Apakah perusahaannya yang hebat ataukah produknya yang hebat?
Bagaimana cara mereka meraih pencapaian itu?

Bisa jadi produk dan perusahaannya memang bagus. Atau salah satunya yang bagus. Apapun itu agar bisa menikmati sesuatu tanpa menemukan atau memilikinya adalah melalui manajemen, strategi, dan belanja modal.



3 Cara Menikmati Omset Excelent tanpa Menemukan dan Memiliki
Tripod Camera


Ada tiga bidang yang umum dalam manajemen, yaitu : marketing, operasional, dan keuangan. Ketiga bidang tersebut harus kuat dalam sebuah perusahaan. Apabila lemah di salah satu bidang, maka akan lemah pula perusahaan itu.

Kokoh tidaknya perusahaan ditentukan oleh kokoh tidaknya tiga bidang itu. Jatuhnya perusahaan juga terjadi karena lemah atau tidak berfungsinya salah satu bidang manajemen itu.

Kita pernah mengenal Kanzen, sebuah merk motor yang pernah didirikan oleh mantan petinggi Astra. Nasibnya tidak sebaik merk-merk motor dari negeri Sakura, Kanzen jatuh  karena lemah di salah satu bidang yaitu marketing. Walaupun operasional dan keuangan kuat.

Garuda Indonesia, sempat limbung dan nyaris jatuh karena bidang finansialnya lemah. Walaupun market dan operasionalnya masih excelent.


3 Cara Menikmati Omset Excelent tanpa Menemukan dan Memiliki
strategy

Sedangkan tentang strategi, ada 3 (tiga) strategi generik persaingan menurut Porter : differensiasi, cost leadership dan fokus

Sederhananya, diferensiasi adalah menjual produk yang sangat bagus sampai pembeli tidak memperhitungkan harganya. Cost Leadership adalah menjual dengan harga murah sampai pembeli kurang memperhitungkan kualitas produknya, sedangkan fokus adalah menjual produk spesifik dengan segmen pasar yang spesifik.   
3 Cara Menikmati Omset Excelent tanpa Menemukan dan Memiliki
quality


Bagaimana dengan belanja modal? Dengan belanja modal yang tepat akan menghasilkan quality. Belanja modal untuk revenue driver.

Bagaimana dengan Anda?



***

Selasa, 26 Januari 2016

Cara Jitu Mengelola Organisasi non Profit


Cara Jitu Mengelola Organisasi non Profit
Bagaimana mengelola organisasi non profit

Update terbaru artikel-artikel menarik, renyah, dan inspiring tentang manajemen keuangan, akuntansi, karir bidang keuangan, dan personal finance pindah ke  www.manajemenkeuangan.net



“ Alhamdulillah RZ bisa mempertahankan opini audit keuangan Wajar Tanpa Pengecualian

Begitu tulisan yang terpampang pada spanduk di lokasi strategis.
Pentingkah opini audit keuangan bagi organisasi non profit?
Berikut uraiannya....

Penulis pernah bekerja sebagai manajer keuangan di sebuah lembaga kemanusiaan nasional yang baru didirikan. Semua pengelolaan organisasi mulai dari nol. Dan itu menjadi tantangan yang menarik bagi saya.

Dana untuk mengelola aktivitas organisasi sering berasal dari patungan pengurus dan beberapa karyawan. Hal seperti itu menurut saya wajar, karena pemasukan dana masih terbatas, sedangkan operasional organisasi harus terus berjalan.

Sesuai dengan amanah yang kami emban, maka kami segera menyusun pondasi  perangkat keuangan mulai dari membuat form-form sampai mempersiapkan laporan keuangan dan SPT Pajak.

Layaknya perjalanan suatu organisasi, entah itu organisasi profit seperti perusahaan yang menjual kalapan atau ikan kalapan, dan organisasi non profit seperti lembaga yang mengelola dana masyarakat, keduanya menghadapi masalah yang sama; penuh dengan dinamika, intrik, dan persaingan.

Persaingan dengan organisasi lain sejenis pun tak bisa terhindarkan. Persaingan dalam hal memperebutkan pasar, pengaruh, dan brand. Maka diperlukan strategi!

Secara akuntansi, keduanya juga sama. Sama-sama memperoleh pendapatan, menanggung beban finansial, dan dituntut laba.

Yang membedakan adalah pada penggunaan laba. Laba organisasi profit boleh diambil oleh pemiliknya, sedangkan organisasi non profit tidak ada pemiliknya sehingga labanya tidak boleh diambil oleh siapapun. Laba akan menjadi capital expenditure.



Cara Jitu Mengelola Organisasi non Profit
Harvard

Organisasi non profit adalah social enterprise. Ada sebuah contoh organisasi non profit yang dikelola secara sungguh-sungguh dan benar, yaitu Harvard University. Pada laporan keuangan 2014 yang diaudit oleh Price Waterhouse Cooper, mencatat pendapatan Rp 61 T. Uang kuliah dari mahasiswa menyumbang Rp 12 T (20%), sponsor Rp 11 T (19%), dan investasi Rp 24 T (38%).

Oleh karena itu, adalah sangat penting bagi organisasi non profit menyusun laporan keuangan yang teraudit dan bisa diakses publik, karena itu merupakan pondasi dari good corporate governance.

Selain itu, organisasi sosial non profitpun butuh core competence, kekuatan yang membuatnya percaya diri, ahli, fokus dan tumbuh dengan kecepatan tinggi.  

Bagaimana dengan organisasi  non profit di negeri ini, berapa banyak yang telah menyusun laporan keuangan yang sudah teraudit?

***    

Senin, 18 Januari 2016

Cara Ampuh Mengoptimalkan Budget Menurunkan Biaya : Sinergi

Sinergi ; mengoptimalkan budget menurunkan biaya
iklan produk cat

Update terbaru artikel-artikel menarik, renyah, dan inspiring tentang manajemen keuangan, akuntansi, karir bidang keuangan, dan personal finance pindah ke  www.manajemenkeuangan.net


Pada artikel sinergi dicontohkan bahwa sinergi bisa menjadikan nilai yang lebih besar dan bisa menciptakan nilai tinggi dari sesuatu yang terbengkalai.


Lalu apakah kasus berikut ini bisa dimasukkan dalam sinergi? Berikut urainnya;

Salah satu contoh kolaborasi yang apik antara sebuah merk produk cat dengan jaringan resto, di mana bintang iklan dalam tayangan tersebut adalah pemilik resto yang juga berprofesi sebagai presenter event MotoGP di sebuah televisi nasional.

Penulis tidak mengetahui dengan pasti kesepakatan kerja sama seperti apa yang terjalin antara keduanya. Apakah pihak bintang iklan dikontrak sebagaimana bintang iklan, ataukah keduanya melakukan kerjasama yang saling menguntungkan dan  mengoptimalkan  budget serta menekan biaya untuk hasil yang baik.

Pemilik jaringan resto selain sebagai bintang iklan, juga akan meningkatkan brand bisnisnya. Sedangkan perusahaan produk cat akan mendapatkan bintang iklan dengan penggunaan budget yang optimal. Keduanya saling diuntungkan.


Bila anda ingin berbisnis kuliner, artikel ini mungkin berguna :


Sinergi ; mengoptimalkan budget menurunkan biaya
konsumen


Terkadang konsumen tidak peduli dengan urusan bahan baku, persediaan, dan proses produksinya. Pokoknya mereka menuntut sesuai yang dijanjikan oleh suatu produk. Dan biasanya merk sebagai jaminannya.

Maka tepat sekali apa yang dilakukan oleh beberapa merk terkenal di dunia ini untuk bersinergi dengan para pabrikan. Toyota bersinergi dengan dengan para pabrikan dari Tegal dan Sidoarjo. Nike bersinergi dengan para pabrikan dari Jawa Barat dan Jawa Timur.

Melalui sinergi, perusahaan-perusahaan besar itu sukses mengeliminasi persediaan bahan baku dan bahan dalam proses dari rekening neracanya. Sinergi telah menyederhanakan sistem akuntansi dan kontrol persediaan bahan baku/setengah jadi yang rumit dan beresiko.  

Dengan sinergi, perusahaan-perusahaan itu bisa dan hanya Fokus pada Core Competence-nya.



Bila ingin menganalisa laporan keuangan, tidak ada salahnya anda membaca juga artikel ini:


***

Sinergi

Sinergi
Sinergi


Update terbaru artikel-artikel menarik, renyah, dan inspiring tentang manajemen keuangan, akuntansi, karir bidang keuangan, dan personal finance pindah ke  www.manajemenkeuangan.net



Di artikel tentang Fokus pada Core Competence disinggung tentang sinergi antara perusahaan resto fast food dengan perusahaan logistik. Sinergi keduanya menghasilkan peningkatan pertumbuhan. Perusahaan resto fastfood sudah tidak repot-repot mengurusi masalah delivery, sehingga lebih fokus pada pengembangan produk dan outlet. Sedangkan bagi perusahaan logistik akan meningkatkan omset.

Contoh-contoh berikut ini juga bisa menggambarkan mengenai ‘sinergi’:

Satu orang punya teri, orang lain punya gula dan cabe. Keduanya bertemu untuk memasak dan kemudian menikmati kerenyahan teri balado sambil ngobrol santai, itulah sinergi

Satu orang punya potensi X, yang lain punya potensi Y, kemudian keduanya membuat Z yang nilainya jauh lebih besar dari pada jumlah X dan Y, itulah sinergi.

Satu orang punya idle capacity X, yang lain punya idle capacity Y, kemudian keduanya memanfaatkan nya untuk membuat produk Z. Menciptakan nilai tinggi dari sesuatu yang terbengkalai. Itulah sinergi.

Sinergi

(sumber:https://en.wikipedia.org/wiki/The_7_Habits_of_Highly_Effective_People)

Menurut Stephen R Covey, perkembangan kemandirian bermula dari dependent(tergantung pada orang lain), kemudian berkembang menjadi independent(mandiri) dan selanjutnya menjadi interdependent.

Sinergi hanya mungkin terjadi antara sesama independent. Bila salah satu masih dependent, itu namanya menolong. Bukan sinergi. 

Maka, sinergi adalah bukti tak terbantahkan bahwa seseorang sudah independent, atau bila perusahaan, maka itu bukti bahwa perusahaan sudah independent.  


Sinergi
bersinergikah?


Bagaimana dengan PT Krakatau Posco dan PT Krakatau NipponSteel Sumikin? PT Krakatau Posco adalah penggabungan, atau perusahaan yang dibentuk oleh PT Krakatau Steel (Persero) dengan Pohang Steel Corporation (Korea Selatan). Sedangkan PT Nippon Krakatau adalah perusahaan yang dibentuk oleh PT Krakatau Steel ( Persero ) dan Nippon Steel (Jepang). 

Lalu,Apakah kedua perusahaan itu bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk sinergi?

Artikel berikut ini barangkali cocok untuk menambah wawasan Anda:

***