My Product

My Product

Jumat, 05 Februari 2016

Cara Menemukan Peluang

Cara Menemukan Peluang
Peluang

Update terbaru artikel-artikel menarik, renyah, dan inspiring tentang manajemen keuangan, akuntansi, karir bidang keuangan, dan personal finance pindah ke  www.manajemenkeuangan.net


Di beberapa pelatihan manajemen, motivasi, dan sejenisnya sering dicontohkan tentang sebuah gelas, timba, atau drum kosong J Wadah-wadah  itu diisi dengan batu kerikil, kemudian pelatih bertanya ke peserta
“ apakah wadah itu penuh ? ”
“penuh!” jawab peserta.

Pelatih segera menuangkan pasir sedemikian rupa untuk mengisi ruang kosong di sela-sela kerikil di wadah tersebut, lalu sang pelatih melemparkan sebuah pertanyaan
“Apakah wadah ini penuh?”
 “Penuh!” sahut peserta.

Selanjutnya air dituangkan ke wadah itu, pelatih pun bertanya lagi
“ Penuh? ”
Peserta pun diam.....

Contoh seperti diatas sebetulnya sebuah perumpamaan tentang sesuatu yang tampak penuh, yang sebenarnya belum penuh. Di wadah itu masih ada ruang kosong (idle capacity) tersembunyi di balik wadah yang nampak penuh.

Adakah kasus seperti itu di dunia nyata? Coba kita cermati beberapa kasus di bawah ini.

Di industri logistik dan pengiriman barang, pasar dikuasai oleh para pemain besar dengan merk kuat yang seolah nyaris menghabiskan seluruh pangsa pasar. Seperti Deutsche Post, yang pada tahun 1998 mengakuisisi DHL, dan di tahun 2014 meraih omset Rp. 1.013T laba Rp. 36T serta hadir hampir di semua negara.

Namun di balik merk-merk besar penguasa pasar itu, muncul perusahaan-perusahaan baru bidang logistik dan pengiriman. Awalnya mereka menggarap ceruk pasar yang belum digarap pemain besar. 

Dan seiring dengan pertumbuhan dan kondisi perekonomian yang tumbuh, mereka pun tumbuh dan nampak ke permukaan.

Di bidang itu masih ada ruang kosong yang belum digarap pemain besar!

Di industri kuliner, kita mengenal merk-merk besar penyedia makanan cepat saji seperti McD, yang ada tahun 2014 meraih omset Rp. 370T dan laba Rp. 64T. Kemudian ada KFC, Burger King, Hoka-Hoka Bento, Pizza Hut.

Selain mereka,  kita juga mengenal pemain-pemain kecil yang banyak bertebaran di seantero negeri ini. Mereka menggarap ruang kosong yang belum disentuh oleh pemain besar. Satu lagi, masih ada ruang kosong di industri makanan!

Di industri penyedia aplikasi ERP ( Enterprise Resource Planning ), kita mengenal SAP, Oracle, Microsoft. Tapi ada banyak penyedia ERP kelas perorangan sampai software house yang sukses menggarap skala kecil. Bidang ini pun masih menyisakan ruang kosong!

Di industri penerbangan, kita mengenal Soutwest Airlines. Maskapai beromset Rp 260T dan laba Rp 15T ini sukses menemukan ruang kosong dari wadah yang nampak penuh. LCC pertama di dunia ini kemudian membangun sinergi dengan berbagai pihak untuk mengisi ruang kosong itu!

Di industri snack berbahan dasar hasil laut kita mengenal nama-nama besar yang menguasai pasar seperti KML dan Sekar Laut. Namun banyak home industri yang tetap eksis, seperti Ina Snack dengan produk andalannya seperti kripik ikan kalapan J

Contoh satu lagi di industri konsultasi, kita mengenal the big five. Namun ada banyak firma yang melayani ceruk pasar yang belum digarap oleh the big five. Di industri konsultasi pun masih ada ruang kosong!

Jadi ruang kosong masih ada di setiap bidang! So tidak usah bertanya “mau bisnis apa ya?” Temukan ruang kosong itu dan cobalah untuk bersinergi untuk mengisinya.

Bagaimana?


***

Sabtu, 30 Januari 2016

3 Cara Menikmati Omset Excelent tanpa Menemukan dan Memiliki

3 Cara Menikmati Omset Excelent tanpa Menemukan dan Memiliki
cherry-blossom

Update terbaru artikel-artikel menarik, renyah, dan inspiring tentang manajemen keuangan, akuntansi, karir bidang keuangan, dan personal finance pindah ke  www.manajemenkeuangan.net

Mendoan adalah khas Banyumas, tapi yang menikmati omset besar dari penjualan mendoan adalah pengusaha  Jakarta.

Kalapan dan Ikan Kalapan adalah khas Tuban, tapi yang menikmati omset besar dari penjualan produk itu adalah pengusaha dari Surabaya dan Jakarta.

Garam adalah khas produk dari pulau Madura, tapi penguasa pasar garam adalah pengusaha dari Surabaya dan Jakarta.

Itu contoh-contoh skala nasional, bagaimana dengan skala global, berikut contohnya:

Pizza adalah khas Italia, tapi yang menikmati omset maknyus dari produk tersebut adalah  perusahaan dari Amerika Serikat.

Gunung emas Grasberg milik Indonesia, tapi yang menikmati omset ratusan triliun rupiah adalah perusahaan dari Amerika Serikat.

Burger adalah khas Jerman, tapi penguasa pasar burger dunia adalah McDonalds, Amerika Serikat.

Bagaimana dengan wayang, gamelan, batik, dan reog Ponorogo? Akankah bernasib seperti contoh-contoh di atas. Kita ikuti saja perkembangan ke depan....

Pertanyaan berikutnya adalah kenapa pengusaha dan perusahaan-perusahaan di atas bisa meraup keuntungan yang spektakuler dari bisnis itu?

Apakah perusahaannya yang hebat ataukah produknya yang hebat?
Bagaimana cara mereka meraih pencapaian itu?

Bisa jadi produk dan perusahaannya memang bagus. Atau salah satunya yang bagus. Apapun itu agar bisa menikmati sesuatu tanpa menemukan atau memilikinya adalah melalui manajemen, strategi, dan belanja modal.



3 Cara Menikmati Omset Excelent tanpa Menemukan dan Memiliki
Tripod Camera


Ada tiga bidang yang umum dalam manajemen, yaitu : marketing, operasional, dan keuangan. Ketiga bidang tersebut harus kuat dalam sebuah perusahaan. Apabila lemah di salah satu bidang, maka akan lemah pula perusahaan itu.

Kokoh tidaknya perusahaan ditentukan oleh kokoh tidaknya tiga bidang itu. Jatuhnya perusahaan juga terjadi karena lemah atau tidak berfungsinya salah satu bidang manajemen itu.

Kita pernah mengenal Kanzen, sebuah merk motor yang pernah didirikan oleh mantan petinggi Astra. Nasibnya tidak sebaik merk-merk motor dari negeri Sakura, Kanzen jatuh  karena lemah di salah satu bidang yaitu marketing. Walaupun operasional dan keuangan kuat.

Garuda Indonesia, sempat limbung dan nyaris jatuh karena bidang finansialnya lemah. Walaupun market dan operasionalnya masih excelent.


3 Cara Menikmati Omset Excelent tanpa Menemukan dan Memiliki
strategy

Sedangkan tentang strategi, ada 3 (tiga) strategi generik persaingan menurut Porter : differensiasi, cost leadership dan fokus

Sederhananya, diferensiasi adalah menjual produk yang sangat bagus sampai pembeli tidak memperhitungkan harganya. Cost Leadership adalah menjual dengan harga murah sampai pembeli kurang memperhitungkan kualitas produknya, sedangkan fokus adalah menjual produk spesifik dengan segmen pasar yang spesifik.   
3 Cara Menikmati Omset Excelent tanpa Menemukan dan Memiliki
quality


Bagaimana dengan belanja modal? Dengan belanja modal yang tepat akan menghasilkan quality. Belanja modal untuk revenue driver.

Bagaimana dengan Anda?



***

Selasa, 26 Januari 2016

Cara Jitu Mengelola Organisasi non Profit


Cara Jitu Mengelola Organisasi non Profit
Bagaimana mengelola organisasi non profit

Update terbaru artikel-artikel menarik, renyah, dan inspiring tentang manajemen keuangan, akuntansi, karir bidang keuangan, dan personal finance pindah ke  www.manajemenkeuangan.net



“ Alhamdulillah RZ bisa mempertahankan opini audit keuangan Wajar Tanpa Pengecualian

Begitu tulisan yang terpampang pada spanduk di lokasi strategis.
Pentingkah opini audit keuangan bagi organisasi non profit?
Berikut uraiannya....

Penulis pernah bekerja sebagai manajer keuangan di sebuah lembaga kemanusiaan nasional yang baru didirikan. Semua pengelolaan organisasi mulai dari nol. Dan itu menjadi tantangan yang menarik bagi saya.

Dana untuk mengelola aktivitas organisasi sering berasal dari patungan pengurus dan beberapa karyawan. Hal seperti itu menurut saya wajar, karena pemasukan dana masih terbatas, sedangkan operasional organisasi harus terus berjalan.

Sesuai dengan amanah yang kami emban, maka kami segera menyusun pondasi  perangkat keuangan mulai dari membuat form-form sampai mempersiapkan laporan keuangan dan SPT Pajak.

Layaknya perjalanan suatu organisasi, entah itu organisasi profit seperti perusahaan yang menjual kalapan atau ikan kalapan, dan organisasi non profit seperti lembaga yang mengelola dana masyarakat, keduanya menghadapi masalah yang sama; penuh dengan dinamika, intrik, dan persaingan.

Persaingan dengan organisasi lain sejenis pun tak bisa terhindarkan. Persaingan dalam hal memperebutkan pasar, pengaruh, dan brand. Maka diperlukan strategi!

Secara akuntansi, keduanya juga sama. Sama-sama memperoleh pendapatan, menanggung beban finansial, dan dituntut laba.

Yang membedakan adalah pada penggunaan laba. Laba organisasi profit boleh diambil oleh pemiliknya, sedangkan organisasi non profit tidak ada pemiliknya sehingga labanya tidak boleh diambil oleh siapapun. Laba akan menjadi capital expenditure.



Cara Jitu Mengelola Organisasi non Profit
Harvard

Organisasi non profit adalah social enterprise. Ada sebuah contoh organisasi non profit yang dikelola secara sungguh-sungguh dan benar, yaitu Harvard University. Pada laporan keuangan 2014 yang diaudit oleh Price Waterhouse Cooper, mencatat pendapatan Rp 61 T. Uang kuliah dari mahasiswa menyumbang Rp 12 T (20%), sponsor Rp 11 T (19%), dan investasi Rp 24 T (38%).

Oleh karena itu, adalah sangat penting bagi organisasi non profit menyusun laporan keuangan yang teraudit dan bisa diakses publik, karena itu merupakan pondasi dari good corporate governance.

Selain itu, organisasi sosial non profitpun butuh core competence, kekuatan yang membuatnya percaya diri, ahli, fokus dan tumbuh dengan kecepatan tinggi.  

Bagaimana dengan organisasi  non profit di negeri ini, berapa banyak yang telah menyusun laporan keuangan yang sudah teraudit?

***    

Senin, 18 Januari 2016

Cara Ampuh Mengoptimalkan Budget Menurunkan Biaya : Sinergi

Sinergi ; mengoptimalkan budget menurunkan biaya
iklan produk cat

Update terbaru artikel-artikel menarik, renyah, dan inspiring tentang manajemen keuangan, akuntansi, karir bidang keuangan, dan personal finance pindah ke  www.manajemenkeuangan.net


Pada artikel sinergi dicontohkan bahwa sinergi bisa menjadikan nilai yang lebih besar dan bisa menciptakan nilai tinggi dari sesuatu yang terbengkalai.


Lalu apakah kasus berikut ini bisa dimasukkan dalam sinergi? Berikut urainnya;

Salah satu contoh kolaborasi yang apik antara sebuah merk produk cat dengan jaringan resto, di mana bintang iklan dalam tayangan tersebut adalah pemilik resto yang juga berprofesi sebagai presenter event MotoGP di sebuah televisi nasional.

Penulis tidak mengetahui dengan pasti kesepakatan kerja sama seperti apa yang terjalin antara keduanya. Apakah pihak bintang iklan dikontrak sebagaimana bintang iklan, ataukah keduanya melakukan kerjasama yang saling menguntungkan dan  mengoptimalkan  budget serta menekan biaya untuk hasil yang baik.

Pemilik jaringan resto selain sebagai bintang iklan, juga akan meningkatkan brand bisnisnya. Sedangkan perusahaan produk cat akan mendapatkan bintang iklan dengan penggunaan budget yang optimal. Keduanya saling diuntungkan.


Bila anda ingin berbisnis kuliner, artikel ini mungkin berguna :


Sinergi ; mengoptimalkan budget menurunkan biaya
konsumen


Terkadang konsumen tidak peduli dengan urusan bahan baku, persediaan, dan proses produksinya. Pokoknya mereka menuntut sesuai yang dijanjikan oleh suatu produk. Dan biasanya merk sebagai jaminannya.

Maka tepat sekali apa yang dilakukan oleh beberapa merk terkenal di dunia ini untuk bersinergi dengan para pabrikan. Toyota bersinergi dengan dengan para pabrikan dari Tegal dan Sidoarjo. Nike bersinergi dengan para pabrikan dari Jawa Barat dan Jawa Timur.

Melalui sinergi, perusahaan-perusahaan besar itu sukses mengeliminasi persediaan bahan baku dan bahan dalam proses dari rekening neracanya. Sinergi telah menyederhanakan sistem akuntansi dan kontrol persediaan bahan baku/setengah jadi yang rumit dan beresiko.  

Dengan sinergi, perusahaan-perusahaan itu bisa dan hanya Fokus pada Core Competence-nya.



Bila ingin menganalisa laporan keuangan, tidak ada salahnya anda membaca juga artikel ini:


***

Sinergi

Sinergi
Sinergi


Update terbaru artikel-artikel menarik, renyah, dan inspiring tentang manajemen keuangan, akuntansi, karir bidang keuangan, dan personal finance pindah ke  www.manajemenkeuangan.net



Di artikel tentang Fokus pada Core Competence disinggung tentang sinergi antara perusahaan resto fast food dengan perusahaan logistik. Sinergi keduanya menghasilkan peningkatan pertumbuhan. Perusahaan resto fastfood sudah tidak repot-repot mengurusi masalah delivery, sehingga lebih fokus pada pengembangan produk dan outlet. Sedangkan bagi perusahaan logistik akan meningkatkan omset.

Contoh-contoh berikut ini juga bisa menggambarkan mengenai ‘sinergi’:

Satu orang punya teri, orang lain punya gula dan cabe. Keduanya bertemu untuk memasak dan kemudian menikmati kerenyahan teri balado sambil ngobrol santai, itulah sinergi

Satu orang punya potensi X, yang lain punya potensi Y, kemudian keduanya membuat Z yang nilainya jauh lebih besar dari pada jumlah X dan Y, itulah sinergi.

Satu orang punya idle capacity X, yang lain punya idle capacity Y, kemudian keduanya memanfaatkan nya untuk membuat produk Z. Menciptakan nilai tinggi dari sesuatu yang terbengkalai. Itulah sinergi.

Sinergi

(sumber:https://en.wikipedia.org/wiki/The_7_Habits_of_Highly_Effective_People)

Menurut Stephen R Covey, perkembangan kemandirian bermula dari dependent(tergantung pada orang lain), kemudian berkembang menjadi independent(mandiri) dan selanjutnya menjadi interdependent.

Sinergi hanya mungkin terjadi antara sesama independent. Bila salah satu masih dependent, itu namanya menolong. Bukan sinergi. 

Maka, sinergi adalah bukti tak terbantahkan bahwa seseorang sudah independent, atau bila perusahaan, maka itu bukti bahwa perusahaan sudah independent.  


Sinergi
bersinergikah?


Bagaimana dengan PT Krakatau Posco dan PT Krakatau NipponSteel Sumikin? PT Krakatau Posco adalah penggabungan, atau perusahaan yang dibentuk oleh PT Krakatau Steel (Persero) dengan Pohang Steel Corporation (Korea Selatan). Sedangkan PT Nippon Krakatau adalah perusahaan yang dibentuk oleh PT Krakatau Steel ( Persero ) dan Nippon Steel (Jepang). 

Lalu,Apakah kedua perusahaan itu bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk sinergi?

Artikel berikut ini barangkali cocok untuk menambah wawasan Anda:

*** 




Cara Ampuh mengembangkan omset : Fokus pada Core Competence

Cara Ampuh mengembangkan omset : Fokus pada Core Competence
Fokus



Update terbaru artikel-artikel menarik, renyah, dan inspiring tentang manajemen keuangan, akuntansi, karir bidang keuangan, dan personal finance pindah ke  www.manajemenkeuangan.net

Ada beberapa model bisnis di dunia maya, salah satunya adalah berjualan produk, baik melalui pihak ketiga maupun membuka website sendiri. Pertanyaan yang kemudian  muncul adalah “apakah model bisnis seperti itu efektif?”

Membuat produk sendiri, memasarkan sendiri, membangun sistem pemasaran sendiri, dan mengirim produk ke pelanggan sendiri. Bila skala bisnisnya masih kecil dan transaksi yang terjadi pun masih sedikit maka model bisnis seperti itu mungkin masih memungkinkan. Tapi bagaimana bila skala bisnisnya semakin membesar?

Memang bisa saja pelaku bisnis itu membuka divisi atau usaha di bidang lain yang bisa mendukung bisnis utamanya. Misalnya membuat bisnis logistik yang akan berfungsi mengantarkan barang ke pelanggan, dan memuat barang-barang yang dibutuhkan, seperti raw material.

Kemudian bisa juga membuka bisnis kemasan dan advertising yang berfungsi dalam urusan kemasan dan branding perusahaan, demikian juga dengan bisnis-bisnis lainnya. Tapi kembali kepada pertanyaan sebelumnya “ efektifkah model seperti itu?”

Ada satu contoh yang relevan dengan kasus ini. KFC, Pizza Hut dan Taco Bell yang beromset lebih besar daripada Rp 140 T memutuskan untuk tidak mengirimkan sendiri pasokan bagi puluhan ribu outletnya, dan kemudian menunjuk perusahaan logistik McLane yang omsetnya lebih besar daripada Rp 610 T untuk mengerjakannya.


Cara Ampuh mengembangkan omset : Fokus pada Core Competence
Independent

Spesialis resto fast food bersinergi dengan spesialis logistik. Mereka mengerahkan seluruh sumber dayanya untuk menambah outlet restonya di seluruh dunia. Mereka fokus dan bersinergi!
Skala usaha yang besar akan meningkatkan biaya, seperti biaya operasional dan biaya-biaya lainnya. Selain itu, perusahaan yang gemuk akan kesulitan dalam bergerak, beda dengan perusahaan ramping yang bisa bergerak dengan lincah. 

Bila bisnis onlineAnda skalanya semakin membesar, maka perlu dipikirkan untuk fokus pada bidang dan core competence Anda, sedangkan bidang-bidang lain biarlah dikerjakan oleh orang lain.


Bagaimana pendapat Anda?

Sabtu, 16 Januari 2016

Cara Ampuh berjualan, Rekomendasi!

Cara Ampuh berjualan, Rekomendasi!

Rekomendasi!

Update terbaru artikel-artikel menarik, renyah, dan inspiring tentang manajemen keuangan, akuntansi, karir bidang keuangan, dan personal finance pindah ke  www.manajemenkeuangan.net


Suatu saat penulis pernah mendapat calon customer hasil dari rekomendasi teman. Proses penjualan pun berjalan dengan baik. Walaupun pada akhirnya calon customer tersebut penulis rekomendasikan ke teman lain lagi. Itulah salah satu manfaat rekomendasi!

Lalu bagaimana caranya untuk mendapatkan banyak rekomendasi?

Siapa pun dia, entah itu teman, saudara, atau orang asing akan  merekomendasikan atas produk yang kita jual karena mereka percaya pada kita dan produknya. Tanpa itu mustahil mereka bersedia merekomendasikan pada pihak lain.


Mereka mengenal kita sebagai orang yang berintegritas! Dimana maksud sederhanan dari integritas adalah tidak mengatakans sesuatu di luar fakta dan tidak mengambil sesuatu di luar hak. Dengan integritas yang tinggi rekomendasi pun akan datang dengan sendirinya dan pada akhirnya akan mendongkrak omset dari bisnis kita.

Cara Ampuh berjualan, Rekomendasi!
contoh perusahaan dengan omset besar


Sehingga omset  perusahaan-perusahaan besar seperti Ciputra=6,4T (2014), Sido Muncul=2,2T (2014), Delta Airlines Rp. 544T ( 2015 ), Kopi Premium Owl = Rp. 5,1T (2014 ),  Intel  = Rp. 750T (2014), Ooredoo = 126T (2014 ), Deutsche Post =1013T (2014) moga bisa dicapai J agar hidup ini lebih indah

Itu salah satu cara untuk mendongkrak omset penjualan, cara-cara lain tentunya banyak, berikut ini penulis memberikan contoh bagaimana Wardah membangun brand dan produknya hingga seperti saat ini (2016);  

Pada awal bisnisnya, Wardah yang didirikan oleh seorang apoteker tidak mudah masuk pasar yang didominasi pemain besar lokal dan multinasional. Butuh produk unggul & strategi pemasaran yang tepat.

Wardah memulai dengan memasok salon kecantikan. Setelah itu wardah masuk pasar end user dengan mengambil segmen muslimah. Di sini nampak kecerdikan Wardah untuk tidak head to head dengan pemain besar lokal maupun multinasional yang sudah lebih dulu merajai pasar kosmetik nasional. Wardah Sukses!

Dan yang lebih penting lagi adalah terus belajar, belajar, dan belajar. Ada lima langkah sederhana yang bisa dilakukan dalam proses belajar, yaitu ; membaca, mempraktekkan, mengulang-ulang,  selanjutnya akan menjadi mahir, dan di langkah akhirnya adalah menuai hasil.

Bagaimana?